Selasa, 29 Juni 2010

Masalah Pemaknaan Kitab Suci Yang Muncul Dilevel Umat

Hermeneutika Menodai Tafsir Al-Quran

Upaya mengusung hermeneutika kembali menarik perhatian banyak kalangan. Beberapa cendekiawan Muslim, terutama yang menekuni bidang teologi dan filsafat, mencoba menjadikan hermeneutika sebagai alternatif pengganti tafsir dalam menginterpretasikan kitab suci Al-Qur’an. Khususnya di Indonesia, gerakan ini kelihatannya sangat terencana dan dibacking oleh LSM asing. Sehingga tidak aneh, hanya dalam hitungan bulan, mereka dapat menelurkan banyak buku-buku dan jurnal terkait tema tersebut.



Disamping itu pengusung hermeneutika juga menyoal sikap mayoritas Muslim yang taklid kepada tafsir-tafsir klasik. Mereka menginginkan agar dilakukan kritikan fundamental terhadap kitab-kitab tersebut. Akan tetapi, ternyata kita juga menyaksikan betapa mereka juga memuja-muja pemikiran Arkaoun, Hasan Hanafi, dan sebagainya. Sikap tersebut diistilahkan oleh Adian Husaini sebagai fenomena latah baru. (baca : Hermeneutika dan Fenomena Taqlid Baru)

Hermeneutika pernah berjaya dalam menafsirkan Bibel (kitab suci umat Kristen). Dan memang suatu hal yang tidak aneh jika hermeneutika berhasil diterapkan pada Bibel, atau bahkan mungkin Bibel memerlukannya. Karena menurut penelitian para kristolog, baik dari kalangan Muslim maupun non Muslim, kitab Bibel yang tidak lagi ditulis dalam bahasa aslinya itu ditulis oleh banyak pengarang dengan versi yang berbeda-beda.

Dan perbedaan antara yang satu denganyang lain pun sangat signifikan. Bahkan maing-masing Bibel seakan berlomba dalam menambah atau mengurangi antar satu denga lainnya. (Untuk lebih jelas, baca buku Dokumen Pemalsuan Alkitab karangan Molyadi Samuel AM, Vistory Press – Surabaya, 2002)

Kenapa penerapan hermeneutika meraih sukses pada Bibel, menurut Ugi Suharto ada tida penyebab. Pertama, kalangan kristiani masih berdebat tantang apakah secara harfiah Bibel itu bisa dianggap kalam Tuhan atau hanya perkataan manusia. Kedua, adanya perbedaan pengarang yang menuliskan Bibel mengakibatkan perbedaan gaya dan koda kata dalam Bibel. Ketiga, teks Bibel ditulis dan dibaca bukan lagi dalam bahasa alanya sehingga mempunyai masalah dengan isu orisinalitas.

Namun demikian, apakah hermeneutika akan meraih sukses yang sama apabila diterapkan untuk menafsirkan Al-Qur’an? Tentu sangat mustahil, karena sudah disepakati oleh Jumhur Ulama bahwa Al-Quran adalah Kalamullah, firman Allah. Al-Qur’an tidak dikarang oleh manusia, dan sampai hari ini Al-Qur’an akan tetap ditulis dan dibaca menurut bahasa aslinya. Melhat fakta tersebut, nampaknya tidak tersedia peluang untuk menerapkan hermeneutika dalam upaya menginterpretasikan Al-Qur’an.

Alasan lain mengapa hermeneutika tidak tepat untuk Al-Qur’an adalah metode hermeneutika bukan hanya menginterpretasikan, tapi juga mengkritisi. Bagaimana mungkin Al-Qur’an yang merupakan wahyu Tuhan akan dikritisi oleh manusia yang bukan siapa-siapa jika dibandingkan dengan Allah SWT sang Khaliq. Tentu akan sangat naif dan ironis sekali. Al-Qur’an adalah kitab suci yang dapat diterima oleh orang yang mengimaninya. Bagi yang tidak mengimaninya tentu tidak berhak untuk mengkritisi.

Sejarah mencatat bahwa jauh sebelum gerakan ini, telah banyak penulis yang mengajukan hermeneutika sebagai alternatif metode penafsiran Al-Qur’an, namun mereka gagal dan tidak berhasil. Alphonse Mingana misalnya, pendekat Kristen adala Irak dan guru besar di Universitas Birmingham-Inggris, pada tahun 1927 mengatakan, “sudah tiba saatnya untuk melakukan kritik terhadap teks Al-Qur’an sebagaimana telah dilakukan terhadap kitab suci Yahudi yang berbahasa Ibrani-Arami dan kitab suci Krieten yang berbahasa Yunani”. (baca: Hermeneutika dan Bibel).

Berdasarkan pengalaman yang menimpa penganut Kristen, hermeneutika telah menimbulkan pertikaian hingga pertumpahan darah. Pecahnya Kristen menjadi Katholik dan Protestan adalah hasil sumbangan dari hermeneutika. Jadi, semboyan pengusung hermeneutika ”untuk menghindari perpecahan umat dibutuhkan alternatif baru (sebenarnya sudah kuno) yaitu hermeneutika” menjadi tidak relevan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar